MGT Logistik – Banner, Kata itu muncul terus di grup WhatsApp tim marketing, di brief agency, bahkan di rapat bulanan perusahaan ekspedisi kecil sekalipun. Banner artinya sebenarnya cuma spanduk—tapi spanduk yang dirancang khusus supaya orang berhenti scroll atau melirik sebentar saat lewat di jalan. Banyak yang menganggapnya remeh, padahal hampir setiap hari kita lihat banner entah di Instagram Stories, di sidebar website, atau di pinggir jalan tol.
Tahun lalu saja pengeluaran iklan banner digital di Indonesia diperkirakan tembus angka triliunan rupiah. Angka itu bukan cuma dari perusahaan besar. Banyak UMKM yang mulai pakai banner murah di marketplace atau di Facebook Ads, dan hasilnya lumayan terasa di penjualan harian. Jadi meskipun orang suka bilang “banner udah mati”, kenyataannya banner masih hidup dan bernapas—hanya bentuknya yang berubah.
Orang biasanya cuma butuh dua sampai tiga detik untuk memutuskan apakah mau memperhatikan sesuatu atau langsung skip. Banner dibuat persis untuk memanfaatkan dua-tiga detik itu. Kalau pesannya jelas, warnanya mencolok tapi tidak berlebihan, dan gambarnya relevan, orang akan ingat—minimal sampai besok pagi. Itu sudah cukup untuk membuat nama perusahaan terngiang saat orang butuh kirim barang besok sore.
Apa Bedanya Banner dengan Iklan Lainnya

Banner berbeda dengan postingan feed biasa atau video pendek karena bentuknya tetap dan posisinya hampir selalu di pinggir atau di atas. Banner statis cuma gambar diam. Banner GIF punya gerakan kecil-kecilan, biasanya teks yang berganti atau panah yang berkedip pelan. Banner HTML5 bisa lebih pintar—bisa berubah sesuai waktu, lokasi, atau bahkan riwayat yang dilihat pengguna.
Ukuran yang paling sering dipakai di Indonesia sekarang:
- 300×250 (kotak medium, favorit di website berita dan blog)
- 728×90 (leaderboard, biasa di header situs)
- 320×100 (mobile leaderboard, muat di layar HP tanpa ganggu terlalu banyak)
- 970×250 (billboard, mahal tapi impactnya besar di desktop)
Kalau perusahaan logistik mau promosi tarif murah ke Sumatera, banner 300×250 sering jadi pilihan pertama karena murah dan muncul di banyak tempat.
Cara Membuat Banner yang Tidak Langsung Diabaikan
Desain banner yang bagus biasanya punya pola yang sama. Satu gambar utama yang langsung bisa dikenali—misalnya truk kontainer, paket kardus rapi, atau peta rute. Teks maksimal dua baris utama. Kalau bisa, pakai angka atau persentase karena orang lebih cepat nangkap “hemat 30%” daripada kalimat panjang “kami memberikan potongan harga hingga tiga puluh persen untuk pengiriman reguler”.
Warna juga penting. Background putih atau abu muda dengan teks merah atau kuning cenderung lebih menonjol di website yang kebanyakan biru-hitam. Tapi jangan kebanyakan warna—maksimal tiga warna dominan. Font sans-serif seperti Arial, Helvetica, atau Roboto biasanya paling aman karena terbaca jelas di ukuran kecil.
Tombol call-to-action wajib ada dan harus kontras. Warna oranye atau merah muda sering dipakai karena otak manusia menganggapnya sebagai “tombol yang harus ditekan”. Kata-katanya pendek: “Cek Ongkir”, “Daftar Gratis”, “Kirim Sekarang”.
Pengalaman Nyata dari Lapangan
Sebuah ekspedisi di Bandung pernah coba pasang banner statis di Shopee Ads selama Ramadan. Desainnya sederhana: foto gudang penuh paket, teks “Ramadan Aman – Packing Double Bubble Wrap Gratis”, dan tombol biru “Pesan Sekarang”. Biaya iklan Rp1,5 juta untuk seminggu, hasilnya volume pengiriman naik 62% dibandingkan minggu sebelumnya. Yang menarik, hampir 70% klik datang dari HP, padahal banner-nya ukuran desktop.
Perusahaan lain di Surabaya pakai banner expandable di LinkedIn. Banner awalnya kecil, hanya logo dan tulisan “Solusi Logistik untuk UKM”. Saat diklik atau disentuh, melebar jadi infografis yang menunjukkan waktu pengiriman ke Jawa Timur dan luar pulau. Dalam tiga bulan mereka dapat 42 lead baru dari pemilik toko online yang sebelumnya pakai jasa lain.
Toko online spare part motor di Jakarta malah pakai banner GIF di Instagram. Gambar ban motor berputar pelan, lalu muncul teks “Pengiriman ke Seluruh Indonesia – Sampai 2 Hari”. Penjualan ban tubeless naik hampir dua kali lipat selama promo dua minggu itu berjalan.
Hal yang Sering Bikin Banner Gagal
Banner blindness memang nyata. Orang sudah terbiasa menganggap area persegi panjang di pinggir halaman sebagai iklan, jadi mata langsung lewat. Cara mengakalinya: buat banner menyatu dengan tampilan website—pakai font dan warna yang mirip dengan konten asli situs. Atau buat desain yang terlihat seperti konten editorial, bukan iklan keras.
File terlalu besar juga musuh besar. Banner di atas 200 KB sering bikin halaman lambat loading, terutama di daerah yang sinyalnya naik-turun. Kompres gambar sampai di bawah 100 KB tanpa kehilangan kualitas terlalu banyak.
Kalau banner pakai animasi berlebihan, orang malah cepat bosan. Gerakan yang terbaik biasanya cuma satu atau dua detik, lalu berhenti. Animasi looping tanpa henti justru bikin orang langsung tutup tab.
Ke Depan Banner Masih Akan Ada
Personalisasi makin gila. Banner bisa berubah isinya tergantung siapa yang buka halaman. Orang di Medan mungkin lihat banner “Pengiriman ke Aceh 24 Jam”, sementara orang di Bali lihat “Gratis Asuransi ke Lombok”. Teknologi itu sudah dipakai beberapa platform besar di Indonesia.
Banner interaktif juga mulai muncul. Ada yang bisa geser untuk lihat simulasi ongkir, atau pilih jenis kendaraan pengiriman langsung di dalam banner. Masih mahal, tapi perusahaan yang punya budget lumayan sudah mulai eksperimen.
Banner artinya tetap sama: cara paling murah dan paling cepat menyampaikan satu pesan penting ke orang yang lewat. Yang berubah cuma teknologinya—dan cara kita memanfaatkannya supaya tidak langsung dilupain.
Kesimpulan
Banner artinya memang sederhana: spanduk promosi visual yang dirancang untuk menarik perhatian dalam waktu singkat. Dari pengertian dasar, jenis-jenisnya, cara desain yang efektif, sampai contoh nyata di lapangan, banner terbukti masih menjadi alat yang sangat berguna bagi pelaku usaha, terutama di bidang logistik dan pengiriman barang. Meski ada tantangan seperti banner blindness dan masalah teknis, kelebihannya dalam hal biaya rendah, kemudahan pengukuran hasil, serta kemampuan menjangkau audiens luas membuatnya tetap relevan hingga sekarang.
Ke depan, dengan semakin canggihnya teknologi personalisasi dan interaksi, banner tidak akan hilang—malah akan semakin pintar dan tepat sasaran. Bagi pengusaha atau manajer yang sedang memikirkan cara promosi hemat tapi berdampak, banner masih layak dicoba dan dikembangkan lebih jauh. Sudah pernah coba bikin atau pasang banner sendiri? Hasilnya bagaimana? Ceritakan di kolom komentar, barangkali ada yang bisa saling pinjam ide.
Baca juga:
