MGT Logistik – Dalam dunia akuntansi, pencatatan transaksi merupakan aktivitas yang sangat penting, terutama dalam hal penjualan aset. Banyak pelaku usaha dan juga akuntan pemula yang masih mengalami kebingungan saat harus mencatat transaksi penjualan aset tetap. Padahal, pencatatan jurnal penjualan aset ini sangat krusial karena akan mempengaruhi laporan keuangan dan pengambilan keputusan bisnis kedepannya. Jika pencatatan dilakukan secara benar, maka seluruh pihak yang berkepentingan dapat memperoleh gambaran yang akurat terkait kondisi perusahaan.
Aset tetap seperti kendaraan, mesin, atau bangunan sering kali dijual karena berbagai alasan, seperti kebutuhan modal kerja, pergantian dengan aset yang lebih baru, atau strategi efisiensi bisnis. Proses penjualan ini tidak hanya melibatkan pengeluaran dan pemasukan uang, tetapi juga berhubungan dengan pencatatan akuntansi yang detail. Setiap transaksi penjualan aset harus dicatat secara sistematis agar tidak menimbulkan kesalahan yang berdampak pada laporan keuangan.
Melalui artikel ini, kamu akan diajak untuk memahami secara mendalam bagaimana pencatatan jurnal penjualan aset dilakukan. Tidak hanya membahas teori, artikel ini juga akan mengulas contoh transaksi secara langsung, sehingga kamu bisa lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Jadi, simak artikel ini sampai tuntas agar kamu semakin mahir dalam mengelola pencatatan jurnal penjualan aset.
Apa Itu Penjualan Aset?

Penjualan aset adalah aktivitas menjual barang milik perusahaan yang dikategorikan sebagai aset tetap, seperti kendaraan, mesin, peralatan, atau bangunan. Aset tetap tersebut pada umumnya telah digunakan dalam operasional perusahaan selama beberapa waktu dan telah mengalami penyusutan nilai (depresiasi). Penjualan aset dapat terjadi karena beberapa alasan, seperti aset sudah tidak produktif, kebutuhan akan likuiditas, atau adanya penggantian dengan aset baru yang lebih efisien.
Setiap kali penjualan aset terjadi, perusahaan harus melakukan pencatatan akuntansi dengan benar. Hal ini bertujuan agar laporan keuangan tetap akurat dan dapat mencerminkan posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya. Selain itu, pencatatan yang tepat juga akan memudahkan proses audit dan pelaporan pajak.
Akun-Akun yang Terlibat dalam Jurnal Penjualan Aset
Dalam proses pencatatan jurnal penjualan aset, ada beberapa akun yang umumnya terlibat, antara lain:
- Aset Tetap (Misal: Kendaraan, Mesin, Bangunan)
Merupakan akun yang akan dikreditkan karena aset tersebut sudah tidak lagi dimiliki perusahaan setelah dijual. - Akumulasi Penyusutan
Akun ini akan didebitkan untuk mengurangi nilai akumulasi penyusutan atas aset yang dijual. - Kas atau Piutang
Jika penjualan dilakukan secara tunai, maka kas akan di debit. Jika secara kredit, maka piutang usaha akan didebit. - Keuntungan atau Kerugian Penjualan Aset
Selisih antara nilai tercatat aset dengan harga jual akan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian. Jika harga jual lebih tinggi dari nilai buku, maka terdapat keuntungan, begitu juga sebaliknya.
Langkah-Langkah Pencatatan Jurnal Penjualan Aset
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah langkah-langkah pencatatan jurnal penjualan aset tetap:
- Hitung Nilai Buku Aset
Nilai buku aset adalah nilai perolehan dikurangi akumulasi penyusutan. Nilai ini menjadi dasar untuk menentukan keuntungan atau kerugian penjualan aset. - Catat Penghapusan Akumulasi Penyusutan
Akumulasi penyusutan aset yang dijual harus dihapus dari pembukuan. - Catat Penerimaan Kas atau Piutang
Jumlah uang yang diterima dari penjualan aset dicatat sebagai kas atau piutang. - Catat Penghapusan Nilai Aset
Nilai perolehan aset yang dijual harus dihapus dari pembukuan. - Catat Keuntungan atau Kerugian Penjualan
Jika harga jual lebih besar dari nilai buku, maka dicatat sebagai keuntungan. Jika sebaliknya, maka kerugian.
Contoh Kasus Transaksi Penjualan Aset
Agar lebih jelas, berikut adalah contoh transaksi penjualan aset tetap beserta pencatatan jurnalnya:
Contoh Kasus:
Perusahaan “Maju Bersama” menjual sebuah mesin yang awalnya dibeli seharga Rp100.000.000. Mesin tersebut sudah digunakan selama 3 tahun dengan akumulasi penyusutan sebesar Rp60.000.000. Mesin dijual tunai seharga Rp45.000.000.
Langkah 1: Hitung Nilai Buku Mesin
- Nilai Buku = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku = Rp100.000.000 – Rp60.000.000 = Rp40.000.000
Langkah 2: Hitung Keuntungan Penjualan
- Keuntungan = Harga Jual – Nilai Buku
Keuntungan = Rp45.000.000 – Rp40.000.000 = Rp5.000.000
Langkah 3: Pencatatan Jurnal
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 2025-07-31 | Kas | Rp45.000.000 | |
| Akumulasi Penyusutan | Rp60.000.000 | ||
| Mesin | Rp100.000.000 | ||
| Keuntungan Penjualan Aset | Rp5.000.000 |
Penjelasan:
- Kas didebit sebesar Rp45.000.000 karena perusahaan menerima uang tunai dari penjualan.
- Akumulasi penyusutan didebit sebesar Rp60.000.000 untuk menghapus akumulasi penyusutan mesin.
- Mesin dikredit sebesar Rp100.000.000 untuk menghapus nilai perolehan mesin dari pembukuan.
- Keuntungan penjualan aset dikredit sebesar Rp5.000.000 karena harga jual lebih besar dari nilai buku.
Contoh Jika Terjadi Kerugian Penjualan Aset
Bagaimana jika mesin tersebut dijual seharga hanya Rp35.000.000? Mari lihat perhitungannya.
Langkah 1: Hitung Kerugian Penjualan
- Kerugian = Nilai Buku – Harga Jual
Kerugian = Rp40.000.000 – Rp35.000.000 = Rp5.000.000
Pencatatan Jurnal:
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 2025-07-31 | Kas | Rp35.000.000 | |
| Akumulasi Penyusutan | Rp60.000.000 | ||
| Kerugian Penjualan Aset | Rp5.000.000 | ||
| Mesin | Rp100.000.000 |
Penjelasan:
- Kerugian penjualan aset didebit sebesar Rp5.000.000 karena harga jual lebih rendah dari nilai buku.
Pentingnya Pencatatan Jurnal Penjualan Aset yang Benar
Pencatatan jurnal penjualan aset yang akurat sangat penting untuk:
- Mencerminkan posisi keuangan yang sebenarnya.
- Menghindari kesalahan dalam pelaporan laba rugi.
- Memudahkan proses audit internal maupun eksternal.
- Menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis berikutnya.
Kesalahan dalam pencatatan bisa berakibat fatal, mulai dari laporan keuangan yang menyesatkan, perhitungan pajak yang salah, hingga kerugian finansial yang tidak terdeteksi.
Kesimpulan
Pencatatan jurnal penjualan aset memang membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang baik mengenai akun-akun yang terlibat. Dengan memahami langkah-langkah pencatatan, mulai dari penghapusan aset, akumulasi penyusutan, hingga pencatatan kas dan keuntungan atau kerugian, kamu bisa mencatat setiap transaksi penjualan aset dengan benar. Melalui contoh transaksi yang telah dibahas, kini kamu dapat menerapkan pencatatan jurnal penjualan aset di perusahaan atau usahamu sendiri tanpa rasa khawatir. Jangan lupa untuk selalu mengecek dan memastikan setiap pencatatan telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dengan pencatatan yang cermat, laporan keuangan menjadi lebih akurat dan perusahaan dapat berkembang dengan sehat.
