27
Sep

Perdagangan Internasional Tahun 2018 akan membaik

Bagaimana kondisi Perdagangan Internasional tahun depan?

Dalam beberapa bulan terakhir, perdagangan internasional terlihat sedikit lebih lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Banyak hal yang terjadi diluar sana, yang berpengaruh terhadap kegiatan ekspor impor barang serta kegiatan ekonomi antar negara lainnya.

Salah satu contoh yang berdampak adalah  tren produksi di sektor industri yang cenderung menurun.

Meskipun masih dalam angka yang cukup tinggi, namun dikatakan bahwa penurunan ini berimbas pada sektor lainnya.

Harga minyak dunia yang cenderung turun, juga berimbas pada sektor perdagangan penting lainnya.

Hal-hal diatas, tentu berimbas pada perekonomian Indonesia dalam berbagai sektor.

Untuk itu, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani, telah memberikan gambaran mengenai perdagangan antar negara yang nantinya akan melibatkan Indonesia.

Baca juga:

Prediksi Perdagangan Internasional  tahun depan

Sri Mulyani menyebutkan, bahwa pada tahun 2018 perekonomian global diprediksi akan tumbuh sekitar 3,6% atau mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2017 yang hanya 3,5%.

Dan beberapa negara yang menunjukkan peningkatan ekonomi adalah negara-negara yang terletak di kawasan Asean , walaupun peningkatan yang terjadi tidak terlalu signifikan, jika dibandingkan dengan tahun 2017 ini dari 5,1% menjadi 5,2%.

Asumsi Sri Mulyani menunjukkan bahwa perdagangan internasional tahun depan di kawasan ini akan naik.

Namun untuk skala global, beliau mengatakan bahwa kemungkinan besar perdagangan internasional di luar ASEAN, pada tahun depan belum pulih seperti sedia kala.

Maksudnya adalah, perdagangan masih akan terganggu dan tidak seramai ketika kondisi dunia baik-baik saja.

Jika Anda mengikuti berita internasional, pasti Anda mendengar beberapa gejolak kerusuhan, perang dan sanksi ekonomi di berbagai negara di dunia.

Menurut Sri Mulyani, hal ini sangat berdampak dan masih akan mewarnai kegiatan ekonomi internasional tahun depan.

Kondisi Geopolitik

Contoh kasus yang mungkin akan mempengaruhi perdagangan dunia adalah kasus Brexit yang bisa memicu perubahan ekonomi di kawasan Eropa,

Adanya sanksi ekonomi dan politik Korea Utara, serta adanya peperangan di berbagai negara.

Geopolitik yang masih menegang seperti saat ini, akan berpengaruh besar terhadap mata uang dollar dan memicu arus keuangan dunia.

Awal tahun depan dimungkinkan perdagangan masih akan melemah, jika kondisi geopolitik tidak membaik.

Namun untuk perdagangan bilateral, multilateral maupun multiregional, diperkirakan bisa naik.

Hal ini kemungkinan besar terjadi, jika negara yang bersangkutan tidak mempunyai masalah Geopolitik, serta saling membutuhkan satu sama lain.

Untuk kawasan ASEAN sendiri, perdagangan masih didobrak dengan adanya sistem Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berlaku sejak tahun 2015 lalu.

Persoalan diatas menunjukkan bahwa meskipun lokasi Indonesia sangat strategis untuk perdagangan, hal itu tidak berpengaruh banyak, jika perdagangan internasional memang sedang dalam keadaan melemah.

Melihat kondisi di atas , kemungkinan pertumbuhan perekonomian Indonesia tahun depan diperkirakan sebesar 5,4% atau melebihi target pertumbuhan ekonomi tahun ini yaitu 5,2%.

Dalam menjaga pertumbuhan ini, pemerintah akan mengawasi dan mengelola kecenderungan dan momentum yang ada.

Pemerintah akan fokus pada aspek produktivitas dengan dasar pembangunan infrastruktur yang telah menunjukkan hasil dan kedepannya dapat menyokong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan produktif.

Baca artikel lain :