MGT Logistik – Transhipment cargo adalah saat barang dipindah dari satu kapal ke kapal lain di tengah perjalanan, biasanya di pelabuhan yang bukan tujuan akhir. Di Indonesia, hampir semua pengiriman antarpulau yang pakai kontainer besar pasti lewat proses ini. Kalau tidak, ongkosnya bisa jadi dua kali lipat dan waktu tempuhnya juga jadi lebih lama. Banyak pengusaha kecil di daerah timur yang mengeluh soal harga logistik tinggi, dan jawabannya sering berputar ke sini: transhipment.
Bayangkan pengusaha ikan asin di Ambon yang mau kirim 5 ton ke Jakarta. Kalau ada kapal langsung besar yang mau ambil muatan kecil begitu, pasti ongkosnya selangit. Realitasnya, ikan asin itu naik kapal feeder kecil ke Surabaya atau Makassar dulu, lalu dipindah ke kontainer besar yang baru berangkat ke Tanjung Priok. Proses pemindahan itulah yang disebut transhipment. Tanpa itu, banyak barang dari pelosok tidak akan pernah sampai dengan harga yang masih masuk akal.
Sekarang, di pertengahan Januari 2026, pelabuhan-pelabuhan seperti Patimban mulai menunjukkan taringnya sebagai hub baru. Banyak perusahaan yang mulai beralih dari rute lama lewat Singapura ke hub domestik. Perubahan ini tidak langsung terasa, tapi kalau dihitung-hitung, selisih biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan untuk perusahaan menengah.
Kenapa Hampir Semua Barang Laut di Indonesia Harus Lewat Transhipment?

Geografi Indonesia adalah penyebab utamanya. Kita punya lebih dari 17 ribu pulau, tapi pelabuhan yang bisa menerima kapal kontainer berkapasitas 10 ribu TEU ke atas jumlahnya sangat sedikit. Kapal-kapal raksasa itu dirancang untuk jarak jauh dengan muatan penuh supaya hemat bahan bakar. Kalau dipaksa mampir ke pelabuhan kecil, mereka bakal rugi besar: harus bongkar muat sedikit-sedikit, lalu lanjut dengan kapal setengah kosong. Itu tidak masuk akal secara ekonomi.
Makanya muncul model hub-and-spoke. Kapal besar hanya singgah di beberapa hub utama seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan, atau sekarang Patimban. Dari situ, kapal feeder kecil yang muatannya 500–2.000 TEU saja bertugas nyebar ke pelabuhan-pelabuhan kecil di seluruh nusantara. Menurut catatan Pelindo tahun 2025, hampir 40 persen kontainer domestik melewati proses transhipment di pelabuhan besar. Angka itu terus naik karena ekspor produk manufaktur dari Pulau Jawa ke wilayah timur semakin deras.
Prosesnya di Lapangan Sebenarnya Seperti Apa?
Prosesnya sebenarnya cukup lugas kalau dilihat dari jauh, tapi kalau sudah terlibat langsung, baru terasa ribetnya.
Kapal induk (mother vessel) tiba di hub → crane besar turunkan kontainer yang tujuannya bukan di situ → kontainer disusun rapi di lapangan penampungan sementara → sesuai jadwal, dimuat lagi ke kapal feeder → feeder berangkat ke tujuan akhir.
Waktu yang dibutuhkan bervariasi. Di pelabuhan yang lancar, bisa selesai dalam 8–12 jam. Tapi di Tanjung Priok yang sering overload, kadang antrean sampai 2–3 hari. Cuaca buruk, crane rusak, atau lonjakan volume mendadak sering bikin jadwal molor. Dokumennya juga harus diperhatikan betul. Bill of lading diubah, manifest kargo diperbarui, dan clearance transhipment (yang lebih ringan dibanding impor biasa) tetap harus lolos dari bea cukai.
Banyak forwarder yang sudah punya pengalaman puluhan tahun bilang: kalau dokumennya ada salah ketik atau kurang satu lembar, barang bisa tertahan seminggu. Ongkos demurrage (biaya penumpukan kontainer di pelabuhan) langsung numpuk, bisa jutaan rupiah per hari.
Apa Untungnya Untuk Pengusaha Biasa?
Pertama dan paling kentara: biaya lebih murah. Kapal besar mengangkut 10.000–20.000 TEU dengan biaya bahan bakar per kontainer jauh lebih rendah dibanding kapal kecil sepanjang jalan. Kedua, jadwal pelayaran jadi lebih sering. Dulu mungkin seminggu sekali ada kapal ke pelabuhan kecil, sekarang bisa 3–4 kali seminggu karena feeder bolak-balik dari hub. Ketiga, UKM yang ekspor kecil-kecilan bisa ikut bermain karena muatan mereka digabung dengan muatan lain di hub.
Contoh kasus nyata: pabrik makanan ringan di Semarang yang rutin kirim ke Ambon. Kalau pakai kapal langsung kecil, ongkos per karton bisa Rp 15.000–20.000. Lewat transhipment di Surabaya, kontainer 20 feet penuh digabung dengan muatan lain, ongkos per karton turun jadi Rp 8.000–10.000. Selisih itu terasa banget buat bisnis margin tipis.
Tapi Memang Ada Sisi Keleknya yang Tidak Bisa Diabaikan
Kerusakan kontainer sering terjadi saat dipindah-pindah. Pernah ada kasus kontainer penyok parah karena crane di hub kurang hati-hati, barang elektronik di dalam rusak total. Keterlambatan juga jadi hal biasa, terutama musim hujan atau kalau ada lonjakan ekspor tiba-tiba. Terus ada risiko dokumen salah atau pelabuhan lagi padat sampai feeder harus nunggu 2–3 hari.
Beberapa pengusaha yang sudah biasa pakai transhipment punya trik-trik sendiri supaya tidak terlalu kerepotan:
- Selalu tambah buffer waktu 4–7 hari di jadwal pengiriman
- Pakai asuransi cargo yang cover kerusakan saat bongkar muat (bukan cuma all-risk biasa)
- Pilih forwarder yang punya slot prioritas atau kontrak jangka panjang dengan operator pelabuhan
- Kalau barang sensitif suhu atau mudah rusak, minta kontainer ditempatkan di posisi yang lebih aman di kapal feeder (misalnya tidak di tumpukan paling bawah)
- Pantau posisi kontainer lewat aplikasi tracking Pelindo atau forwarder
Cerita dari Patimban yang Mulai Ramai di 2026
Sejak akhir 2024, Patimban mulai dilirik serius. Ada satu eksportir furnitur kayu di Cirebon yang dulu kirim ke Kalimantan lewat Tanjung Priok, lama 14 hari, biaya tinggi karena antre panjang. Sekarang lewat Patimban, kontainer besar turun di sana, langsung pindah ke feeder, sampai Balikpapan cuma 8 hari, biaya turun hampir 25%. Cerita seperti ini mulai banyak beredar di grup WhatsApp logistik dan forum pengusaha, dan bikin banyak yang ikut coba.
Ke Depannya Akan Seperti Apa?
Di 2026 ini, Pelindo lagi gencar bangun sistem digital di pelabuhan. Tracking kontainer pakai IoT sudah mulai jalan di beberapa terminal. Ada juga wacana pakai blockchain supaya dokumen transhipment tidak bisa diutak-atik sembarangan. Kalau semua berjalan lancar, Indonesia bisa tarik lebih banyak transhipment internasional, bukan cuma domestik.
Buat pengusaha, saran paling masuk akal sekarang: duduk dulu, cek ulang rute pengiriman yang biasa dipakai. Bandingkan antara lewat hub domestik yang baru berkembang dengan rute lama yang lewat hub luar negeri. Kadang selisih biayanya cukup besar, terutama kalau volume pengiriman sudah lumayan atau barangnya rutin.
Kesimpulan
Intinya, transhipment cargo itu bukan cuma istilah keren di dunia logistik. Itu salah satu alasan utama kenapa barang bisa sampai ke tempat terpencil dengan harga yang masih bisa ditoleransi oleh pasar. Tantangannya memang nyata, tapi kalau dikelola dengan pengalaman, mitra yang tepat, dan sedikit antisipasi, manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya.
Kalau kamu pernah kesal gara-gara transhipment molor, kontainer penyok, atau malah senang karena ongkosnya lebih murah dari perkiraan, ceritain dong di kolom komentar. Pengalaman orang-orang di lapangan biasanya jauh lebih berguna daripada baca teori panjang lebar.
