MGT Logistik – Setiap kali ada komplain dari pelanggan karena barang yang datang beda ukuran atau beda warna, biasanya masalahnya bermuara pada satu hal: tidak ada identifikasi produk yang jelas di gudang. Di sinilah peran apa itu SKU menjadi sangat krusial. SKU atau Stock Keeping Unit adalah kode unik yang dibuat sendiri oleh perusahaan untuk setiap varian barang yang ada di stok—bukan nomor seri dari pabrik, bukan barcode standar internasional, tapi kode internal yang benar-benar mencerminkan apa yang ada di rak gudang.
Di Indonesia tahun 2026 ini, sektor pergudangan dan logistik masih tumbuh pesat. Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB mencapai sekitar 5,8-6,2 persen, dengan nilai tambah bruto subsektor pergudangan saja diperkirakan melebihi Rp380 triliun. Tapi di balik angka pertumbuhan itu, masih banyak distributor menengah yang mengandalkan ingatan kepala gudang atau catatan tulis tangan untuk membedakan barang. Akibatnya, salah kirim, overstock, atau barang hilang ratusan juta rupiah sering terjadi hanya karena tidak ada kode yang konsisten. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah gudang bisnis Anda masih mengandalkan “yang kotak biru” atau sudah punya sistem kode yang bikin semua orang di tim bisa langsung paham?
Pembahasan kali ini akan mengupas apa itu SKU secara langsung sesuai kondisi lapangan perusahaan dagang dan logistik di Indonesia saat ini. Mulai dari pengertian dasar, cara membuat format kode yang benar-benar dipakai sehari-hari, kesalahan yang paling sering ditemui, contoh nyata dari distributor yang berhasil memperbaiki sistemnya, hingga dampak langsung ke biaya operasional dan kelancaran pengiriman. Harapannya, setelah membaca, pembaca bisa langsung cek master stok di tempat masing-masing dan mulai perbaikan kecil yang hasilnya terasa dalam hitungan bulan.
Pengertian SKU dan Mengapa Berbeda dengan Barcode atau Nomor Part

SKU adalah Stock Keeping Unit, kode internal yang sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi setiap item persediaan secara unik. Kode ini bisa berupa kombinasi huruf dan angka yang mencerminkan kategori produk, varian, ukuran, warna, kemasan, atau bahkan batch produksi. Yang membedakan dengan barcode UPC/EAN atau nomor part pabrik adalah SKU dibuat khusus untuk kebutuhan operasional internal, sehingga lebih fleksibel dan lebih informatif bagi tim gudang.
Di perusahaan logistik Indonesia, SKU sering menjadi penyelamat saat menghadapi ribuan varian barang dari ratusan supplier. Contoh paling sederhana: distributor alat tulis kantor yang punya pulpen biru tinta gel 0,5 mm dan 0,7 mm. Kalau hanya mengandalkan nama produk, staf gudang harus buka kotak untuk cek. Dengan SKU seperti PLN-BG-05 dan PLN-BG-07, semua langsung tahu bedanya hanya dari kode.
Cara Membuat Format SKU yang Benar-Benar Dipakai di Lapangan
Perusahaan menengah di Indonesia biasanya membuat SKU dengan langkah berikut yang sudah terbukti praktis:
Pertama, tentukan struktur kode yang pendek tapi informatif. Umumnya 6–12 karakter cukup. Contoh struktur populer: 3 huruf kategori + 3 huruf varian + 2-3 angka urut atau ukuran. Misalnya SAB-RFL-800 untuk sabun cair refill 800 ml.
Kedua, buat aturan tertulis dalam satu dokumen sederhana yang ditempel di gudang dan dibagikan ke tim purchasing serta penjualan. Dokumen ini berisi daftar singkatan warna, ukuran, dan kategori agar tidak ada interpretasi berbeda.
Ketiga, masukkan SKU sebagai data wajib di semua sistem—Excel, Google Sheets, atau software akuntansi. Kalau baru mulai, cukup satu sheet master item yang di-update setiap ada produk baru.
Keempat, terapkan disiplin saat penerimaan barang. Setiap kali barang datang dari supplier, cek apakah sudah ada SKU. Kalau belum, buat saat itu juga sebelum barang masuk rak.
Banyak distributor yang mulai dari format sederhana seperti itu, lalu setelah satu-dua tahun baru tambah detail seperti kode supplier atau tahun produksi di akhir kode.
Kesalahan Paling Sering yang Membuat SKU Malah Menambah Masalah
Beberapa kesalahan klasik yang masih sering ditemui:
Kode terlalu panjang atau memakai simbol aneh yang sulit diketik di hand scanner.
Singkatan tidak konsisten—bulan lalu pakai BL untuk biru, bulan ini pakai BIR—sistem jadi menganggap dua barang berbeda.
Mengubah SKU lama saat ada perubahan kecil kemasan, padahal seharusnya buat SKU baru agar riwayat stok tetap akurat.
Tidak membuat SKU untuk barang bundling atau paket promo, sehingga stok paket tidak terpantau terpisah.
Cara paling efektif mengatasinya adalah review master item setiap akhir kuartal bersama tim gudang dan purchasing, lalu bersihkan duplikat sekaligus.
Contoh Nyata dari Distributor Fashion di Tangerang
Sebuah distributor pakaian jadi di Tangerang tahun 2025 hampir kehilangan kontrak besar dengan ritel modern karena tingkat kesalahan pengiriman mencapai 8 persen. Penyebab utamanya: tidak ada perbedaan kode antara kaos oblong putih ukuran M, L, dan XL—semua dicatat dengan nama yang sama di buku stok. Setelah menerapkan SKU seperti KOS-PTH-M23, KOS-PTH-L23, KOS-PTH-XL23 (dengan akhiran tahun untuk batch), tingkat kesalahan turun menjadi di bawah 1 persen dalam tiga bulan. Purchasing juga jadi lebih tepat karena bisa lihat varian mana yang paling laris dari laporan stok per SKU. Dampak keuangannya langsung terasa: modal kerja yang terikat di stok mati berkurang hampir Rp800 juta dalam satu tahun.
Manfaat Nyata yang Langsung Terasa di Operasional
Setelah menerapkan SKU dengan konsisten, perusahaan biasanya merasakan perubahan nyata dalam 1–3 bulan. Berikut poin-poin yang paling sering terlihat di gudang distributor Indonesia:
- Picking dan packing jauh lebih cepat. Staf tidak perlu lagi buka kotak untuk cek isi—kode SKU langsung menunjukkan varian yang benar. Waktu ambil barang per order sering turun 30–50 persen, terutama saat pesanan ramai.
- Kesalahan pengiriman berkurang drastis. Salah ukuran, warna, atau kemasan jarang terjadi. Banyak distributor melaporkan retur karena picking error turun dari 5–8 persen menjadi di bawah 1 persen.
- Stock opname lebih singkat dan akurat. Penghitungan stok akhir periode selesai dalam satu hari penuh, bukan 2–3 hari seperti dulu, karena setiap item punya kode jelas.
- Analisis penjualan per varian jadi mudah. Laporan stok langsung tunjukkan mana produk laris dan mana yang lambat berputar, sehingga reorder atau diskon lebih tepat sasaran.
- Nilai persediaan akhir lebih presisi di laporan keuangan. Harga pokok penjualan dan aset stok tidak lagi estimasi kasar, memudahkan pajak, audit, dan ajukan kredit bank.
- Modal kerja lebih efisien. Overstock varian kurang laku terdeteksi dini, sehingga pembelian berlebih berkurang dan stok mati bisa ditekan—penghematan sering puluhan hingga ratusan juta per tahun.
Manfaat ini bukan teori, melainkan pengalaman nyata banyak gudang menengah di Jawa dan luar Jawa. Mulai dari spreadsheet sederhana saja sudah cukup untuk rasakan bedanya—tanpa perlu software mahal di awal.
Tren ke Depan di 2026–2027
Dengan semakin banyaknya platform e-commerce yang menuntut integrasi stok real-time dan pengiriman same-day, SKU yang baik akan menjadi syarat mutlak. Banyak warehouse management system lokal sudah mulai mewajibkan SKU sebagai primary key. Perusahaan yang sudah punya sistem kode rapi sekarang akan jauh lebih mudah terkoneksi dengan marketplace atau 3PL tanpa harus bersih-bersih data besar-besaran.
Langkah paling sederhana untuk memulai atau memperbaiki: ambil akhir pekan ini, kumpulkan tim gudang dan purchasing, cetak daftar stok saat ini, lalu sepakati format SKU yang baru. Mulai terapkan Senin depan. Dalam tiga bulan, perbedaannya sudah terasa.
SKU pada hakikatnya adalah bahasa yang dipahami bersama antara manusia dan sistem di gudang. Dengan bahasa yang sama dan jelas, banyak masalah operasional yang selama ini dianggap “sudah biasa” ternyata bisa dikurangi drastis. Bagi pelaku bisnis logistik dan perdagangan yang sedang menghadapi pertumbuhan volume tapi margin semakin tipis, memperbaiki sistem SKU sering kali menjadi salah satu investasi termurah dengan pengembalian paling cepat.
Bagaimana kondisi sistem identifikasi produk di gudang atau toko Anda saat ini? Sudah pakai SKU atau masih mengandalkan nama produk saja? Ceritakan pengalaman atau kendala yang dihadapi di kolom komentar—bisa jadi ada solusi sederhana dari pembaca lain yang sedang mengalami hal serupa.
Baca juga:
