MGT Logistik – Di perusahaan logistik dan perdagangan, hampir setiap minggu ada angka yang berubah: tarif angkut naik sedikit, volume pengiriman bertambah, atau biaya sewa gudang melonjak karena kontrak baru. Banyak manajer dan pemilik usaha yang langsung merasakan tekanan itu di arus kas, tapi ketika ditanya berapa sebenarnya persen kenaikannya, jawabannya sering masih “naik lumayan” atau “kurang lebih segitu”. Padahal cara menghitung kenaikan persen adalah langkah paling sederhana yang bisa langsung mengubah perkiraan menjadi keputusan yang lebih tajam, terutama di saat margin sudah tipis seperti sekarang.
Beberapa tahun terakhir, biaya logistik di Indonesia memang terus naik, mulai dari solar, upah sopir, hingga sewa kontainer. Laporan dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa indeks biaya transportasi barang darat naik rata-rata 6–8% per tahun sejak 2023. Bagi distributor atau ekspedisi menengah yang mengoperasikan 20–50 armada, kenaikan seperti itu bisa berarti tambahan pengeluaran ratusan juta rupiah setiap bulan. Kalau tidak dihitung dengan teliti, perusahaan sering terlambat menyesuaikan harga jual atau mencari cara menghemat, sehingga margin kotor tergerus tanpa disadari. Pertanyaannya sekarang: apakah Anda sudah punya kebiasaan menghitung persen perubahan secara rutin, atau masih membandingkan angka bulanan hanya secara kasar?
Pembahasan kali ini akan menjelaskan langkah menghitung kenaikan persen dengan cara yang paling dekat dengan kenyataan di perusahaan dagang dan logistik. Kita akan lihat rumus dasar, urutan praktis yang biasa dipakai, kesalahan umum di lapangan, contoh nyata dari bisnis distribusi, serta implikasi langsung terhadap arus kas dan strategi. Semoga setelah membaca, proses analisis perubahan biaya atau penjualan jadi lebih terasa ringan dan bisa langsung diterapkan minggu ini juga.
Dasar Perhitungan Kenaikan Persen yang Benar

Rumus yang paling sering digunakan di perusahaan dagang dan logistik adalah:
Kenaikan persen = (nilai baru – nilai lama) ÷ nilai lama × 100%
Contoh sederhana yang sering muncul di akhir bulan: biaya transportasi Januari Rp180 juta, Februari Rp216 juta. Selisihnya Rp36 juta. Rp36 juta dibagi Rp180 juta menghasilkan 0,2. Dikalikan 100 menjadi 20%. Jadi biaya angkut naik 20%.
Kalau angkanya turun, hasilnya negatif. Misalnya konsumsi solar per km turun dari 0,45 liter menjadi 0,39 liter. Selisih minus 0,06 liter. Minus 0,06 dibagi 0,45 menghasilkan minus 0,133 atau turun 13,3%. Angka negatif ini sama pentingnya karena menandakan efisiensi yang berhasil dicapai.
Langkah yang Biasa Dilakukan di Perusahaan Menengah
Berikut urutan praktis yang sering dipakai supaya hasilnya konsisten dan minim kesalahan:
Pertama, pastikan data yang dibandingkan benar-benar sebanding. Jangan bandingkan omzet Desember (musim liburan tinggi) dengan Januari (pasca libur sepi) tanpa catatan musiman. Banyak distributor barang konsumsi yang terjebak di sini dan mengira penjualan turun drastis padahal hanya efek musim.
Kedua, catat nilai lama dan nilai baru dengan jelas. Tulis di spreadsheet kolom A untuk periode sebelumnya, kolom B untuk periode sekarang. Ini menghindari kebingungan saat membandingkan beberapa bulan sekaligus.
Ketiga, hitung selisih dulu (B – A), baru bagi dengan nilai lama (A). Langsung membagi B dengan A lalu kurangi 1 juga benar, tapi lebih mudah salah kalau angkanya besar atau ada tanda minus.
Keempat, kalikan hasil bagi dengan 100 dan format sebagai persen. Di Excel formula sederhananya =(B2-A2)/A2*100, lalu tekan Ctrl+Shift+% untuk format persen.
Kelima, kalau periode lebih dari dua, hitung pertumbuhan majemuk. Misalnya biaya gudang naik 8% tahun lalu dan 6% tahun ini: (1+0,08) × (1+0,06) – 1 = 0,1448 atau 14,48% kumulatif. Angka ini lebih akurat untuk proyeksi anggaran tahunan.
Kesalahan yang Sering Terjadi di Lapangan
Beberapa jebakan yang kerap dialami manajer logistik dan pemilik usaha:
Membandingkan persen dengan persen secara langsung tanpa melihat basisnya. Kenaikan biaya 15% dan kenaikan tarif 10% bukan berarti margin turun 5%. Harus dihitung ulang pada nilai absolut supaya jelas dampak bersihnya.
Menggunakan data yang tidak konsisten. Misalnya membandingkan biaya angkut per liter dengan biaya angkut total tanpa memperhitungkan jarak tempuh yang berbeda.
Mengabaikan tanda minus. Turun 12% sering dianggap “tidak signifikan”, padahal kalau itu biaya operasional, artinya ada penghematan jutaan rupiah setiap bulan.
Lupa memperhitungkan basis nol. Kalau penjualan bulan lalu nol karena baru buka cabang, kenaikan persen jadi tidak bisa dihitung. Lebih baik pakai pertumbuhan absolut dulu untuk kasus seperti ini.
Contoh Nyata dari Distributor Barang Elektronik di Jabodetabek
Tahun 2025 sebuah distributor elektronik di Depok mengalami kenaikan biaya sewa gudang dari Rp45 juta per bulan menjadi Rp52,2 juta. Hitungannya: (52,2 – 45) / 45 × 100% = 16%. Karena gudang itu menampung 70% stok utama, kenaikan ini langsung memengaruhi harga pokok penjualan.
Manajemen kemudian menghitung dampaknya: kalau tarif pengiriman dinaikkan rata-rata 7%, apakah pelanggan ritel masih bertahan? Setelah simulasi di spreadsheet, mereka memilih strategi campuran: naikkan tarif 4% untuk pelanggan korporat, optimalkan layout gudang agar kapasitas naik 10% tanpa tambah ruang, dan negosiasi ulang kontrak sewa dengan janji pembayaran lebih awal. Akhirnya kenaikan biaya bersih hanya 9%, margin kotor tetap di atas 22%. Tanpa perhitungan persen yang teliti, mereka mungkin langsung menaikkan harga jual secara seragam dan kehilangan beberapa pelanggan tetap.
Implikasi Langsung terhadap Keputusan Bisnis
Angka kenaikan persen yang akurat membantu dalam hal-hal berikut:
Menentukan titik kritis renegosiasi kontrak. Kalau biaya mitra logistik naik lebih dari 10–12% dalam setahun, biasanya saatnya cari opsi lain.
Menetapkan target realistis. Target “penjualan naik 18%” lebih mudah dipahami tim daripada “penjualan harus jauh lebih tinggi”.
Memantau efisiensi operasional. Kenaikan konsumsi BBM per ton barang 4–5% bisa jadi tanda armada perlu servis atau sopir butuh pelatihan ulang.
Menyusun anggaran tahunan yang lebih tahan banting. Kalau tren kenaikan biaya logistik rata-rata 7% per tahun, anggaran harus disiapkan minimal sebanyak itu agar tidak defisit mendadak.
Ke Depan di Tahun 2026
Dengan harga energi yang masih fluktuatif, kenaikan upah minimum provinsi, dan regulasi emisi kendaraan yang semakin ketat, perubahan biaya logistik hampir pasti terjadi. Perusahaan yang rutin menghitung kenaikan persen setiap bulan atau kuartal biasanya lebih cepat menyesuaikan—entah dengan mengoptimalkan rute, beralih ke kendaraan lebih irit, atau menambah layanan value-added untuk menaikkan tarif tanpa kehilangan pelanggan.
Rekomendasi yang paling praktis: luangkan 10–15 menit setiap akhir periode untuk menghitung 4–5 metrik utama (omzet, biaya angkut, biaya gudang, margin kotor, efisiensi armada). Catat di satu file spreadsheet yang sama dari bulan ke bulan. Seiring waktu pola akan terlihat jelas, dan keputusan jadi lebih berbasis data daripada perkiraan.
Cara menghitung kenaikan persen bukanlah soal matematika tingkat tinggi, melainkan kebiasaan kecil yang bisa mencegah kerugian besar dan membantu menemukan peluang efisiensi yang tersembunyi. Bagi pengusaha, manajer logistik, atau siapa pun yang mengelola angka setiap hari, kebiasaan ini sering kali menjadi pembeda antara bertahan dan berkembang di tengah persaingan ketat.
Sudahkah Anda mulai rutin menghitung persen perubahan di operasional bisnis? Metrik apa yang paling sering Anda pantau? Silakan bagikan pengalaman di kolom komentar, barangkali ada ide yang bisa saling membantu.
Baca juga:
