Categories Logistik

Apa Itu CBM dan Mengapa Pemahaman tentang Cubic Meter Bisa Menyelamatkan Anggaran Logistik Bisnis Anda?

MGT Logistik – Dalam keseharian pengelolaan pengiriman barang, terutama bagi mereka yang rutin berurusan dengan ekspor, impor, atau distribusi domestik skala besar, istilah CBM hampir pasti muncul setiap kali membahas biaya. CBM adalah singkatan dari cubic meter—satuan volume yang mengukur berapa meter kubik ruang yang benar-benar dibutuhkan oleh barang Anda di dalam kontainer, truk, atau pesawat kargo. Banyak pelaku usaha yang awalnya menganggap ini hanya detail teknis kecil, tapi setelah beberapa kali kena tagihan “kejutan” dari forwarder, baru sadar betapa besar pengaruhnya terhadap cash flow.

Menurut data terbaru dari Kementerian Perhubungan dan laporan Bank Dunia (per 2025), biaya logistik di Indonesia masih berada di kisaran 20–22% dari total nilai barang yang diperdagangkan. Ini masih termasuk salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN. Penyebabnya beragam, tapi salah satu yang paling sering diabaikan adalah ketidakakuratan dalam menghitung dan mengelola volume pengiriman alias CBM. Banyak perusahaan, terutama UMKM dan usaha menengah, masih mengandalkan pengukuran kasar atau bahkan hanya “kira-kira” dari supplier, akhirnya membayar lebih mahal atau justru membuang-buang ruang kontainer yang sudah dibayar penuh.

Mari kita bahas secara bertahap dan praktis: mulai dari pengertian dasar, cara menghitung yang benar di lapangan, perbedaan antara berat aktual dan berat volume, kesalahan yang paling sering terjadi, contoh nyata dari pelaku usaha Indonesia, hingga tips apa saja yang bisa langsung diterapkan besok pagi.

Apa Bedanya CBM dengan Berat Barang yang Biasa Kita Gunakan?

cbm artinya

Salah satu hal yang sering bikin bingung adalah mengapa barang yang terasa ringan malah ongkos kirimnya mahal, sementara barang berat tapi kecil bisa lebih murah. Jawabannya terletak pada dua jenis pengukuran yang selalu dipakai perusahaan logistik:

Berat aktual (gross weight): bobot fisik total barang + kemasan + palet, diukur dengan timbangan. Berat volume (volume weight / dimensional weight): bobot yang dikonversi dari volume barang menggunakan faktor standar.

Untuk pengiriman laut (LCL atau FCL), hampir semua forwarder menggunakan rasio 1 CBM = 1.000 kg (1 ton). Untuk pengiriman udara, rasionya lebih ketat: 1 CBM = 167 kg (beberapa maskapai seperti Cathay atau Emirates pakai 200 kg). Contoh sederhana: Anda mau kirim 10 buah kursi rotan. Berat total 120 kg, tapi volume setelah dikemas mencapai 1,4 CBM.

Di laut: dihitung 1,4 ton → biaya berdasarkan 1.400 kg. Di udara: dihitung 1,4 × 167 = ±234 kg → biaya berdasarkan 234 kg (lebih murah daripada laut kalau rutenya cocok).

Inilah mengapa barang “puffy” seperti furnitur, pakaian dalam karton besar, atau barang dengan banyak rongga udara sering “dihukum” oleh sistem volume. Pemahaman ini juga sangat berguna ketika Anda membandingkan opsi moda transportasi. Misalnya, untuk barang ringan tapi bervolume besar seperti produk tekstil atau aksesori rumah tangga, pengiriman udara kadang justru lebih ekonomis daripada laut karena faktor konversi volumenya yang lebih rendah.

Sebaliknya, untuk barang padat dan berat seperti mesin atau bahan baku logam, berat aktual hampir selalu menjadi penentu utama biaya. Dengan memahami perbedaan ini sejak tahap perencanaan pengiriman, Anda bisa memilih moda yang paling optimal, menghindari pemborosan, dan bahkan meningkatkan margin keuntungan secara keseluruhan.

Cara Menghitung CBM yang Benar di Gudang atau Pabrik

Rumus dasarnya memang sangat sederhana:
CBM = Panjang (m) × Lebar (m) × Tinggi (m)

Tapi dalam praktiknya, banyak yang tersandung di detail kecil. Berikut langkah-langkah yang biasa dipakai oleh eksportir berpengalaman:

  1. Selalu ukur dimensi paling luar termasuk kemasan, palet, strap, atau pelindung sudut.
  2. Pastikan barang dalam posisi normal pengiriman (tidak miring atau tertekan).
  3. Kalau menggunakan satuan sentimeter (lebih umum di pabrik kecil): bagi setiap ukuran dengan 100 baru dikalikan.

Contoh riil:
Sebuah meja makan kayu jati ukuran 200 cm × 100 cm × 80 cm + palet 15 cm.
→ Tinggi total 95 cm → 2,0 × 1,0 × 0,95 = 1,9 CBM

Kalau ada 12 meja: 12 × 1,9 = 22,8 CBM.
Ini informasi penting karena kontainer 40 feet high cube maksimal biasanya muat 28–30 CBM tergantung susunan.

Kesalahan Umum yang Sering Bikin Rugi Besar

Dari pengamatan selama bertahun-tahun di lapangan, berikut beberapa jebakan yang hampir selalu terjadi:

  • Mengukur hanya sekali lalu pakai itu untuk semua barang (padahal kemasan bisa beda-beda).
  • Lupa menambahkan tinggi palet atau kayu penguat.
  • Mengukur dalam kondisi barang belum dikencangkan rapat.
  • Tidak memperhitungkan ruang mati (dead space) saat menyusun di kontainer.
  • Percaya begitu saja dengan ukuran yang ditulis di invoice supplier tanpa cek ulang.

Akibatnya? Forwarder sering mengukur lebih besar → Anda bayar lebih. Atau kontainer hanya terisi 70–80% → biaya per CBM jadi membengkak.

Contoh Nyata dari Pelaku Usaha di Indonesia

Salah satu eksportir furnitur di Jepara yang saya kenal berhasil menurunkan biaya pengiriman rata-rata 18–22% hanya dengan dua perubahan sederhana:

  • Mereka mulai mengukur ulang setiap batch dan mencatat data selama 3 bulan.
  • Mengubah desain kemasan (mengurangi tinggi karton 8–10 cm) dan menyusun ulang tata letak muatan menggunakan aplikasi 3D loading gratis.

Hasilnya: muatan per kontainer naik dari rata-rata 24,5 CBM menjadi 28,7 CBM. Hematnya mencapai puluhan juta rupiah per pengiriman.

Di dunia e-commerce, penjual yang jualan produk rumah tangga di Shopee/Tokopedia juga mulai banyak yang sadar. Dengan mengganti bubble wrap tebal menjadi kardus lebih ramping, volume per item turun 25–40%, ongkir ke pembeli jadi jauh lebih kompetitif, penjualan pun naik.

Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Besok?

  1. Mulai catat semua pengukuran CBM di spreadsheet sederhana.
  2. Bandingkan dengan invoice forwarder setiap kali ada pengiriman.
  3. Ajak tim gudang untuk selalu ukur ulang sebelum packing.
  4. Pertimbangkan software gratis seperti PackApp atau 3D Load Packer untuk simulasi pengisian kontainer.
  5. Kalau volume pengiriman sudah besar, pertimbangkan konsultasi dengan surveyor independen.

Kesimpulan

CBM memang terlihat seperti hal kecil, tapi dampaknya sangat besar terhadap kesehatan keuangan bisnis logistik. Dengan menghitung lebih teliti, mengemas lebih efisien, dan memanfaatkan ruang sebaik mungkin, Anda bisa menghemat biaya yang signifikan tanpa harus menaikkan harga jual atau mengurangi kualitas produk.

Sudahkah bisnis Anda pernah kena “kejutan” CBM? Atau punya cara khusus supaya kontainer selalu penuh? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat banyak orang.

Baca juga:

Written By

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like