Categories Logistik

Contoh Job Order Costing: Cara Hitung Biaya Tiap Pesanan di Bisnis Logistik Custom

MGT Logistik – Usaha logistik yang menangani pesanan beda-beda setiap hari sering kesulitan menentukan harga yang pas. Ada kiriman biasa, ada yang butuh pendingin, ada lagi yang minta dikawal atau dikemas khusus. Kalau cuma pakai tarif standar atau feeling, lama-lama margin bisa habis atau malah rugi diam-diam. Di sinilah contoh job order costing sering dipakai sebagai solusi, karena metode ini menghitung biaya secara spesifik untuk setiap pesanan.

Di lapangan, banyak ekspedisi kecil yang mulai sadar setelah beberapa bulan operasi: job yang kelihatannya besar ternyata untungnya kecil, sementara job kecil-kecilan malah lebih menguntungkan. Fluktuasi harga solar, macet di jalan, lembur supir, sampai biaya kemasan tambahan—semua itu kalau tidak dicatat rinci, sulit diketahui mana yang bikin rugi. Makanya, pendekatan job order costing perlahan jadi pilihan, terutama buat perusahaan yang tidak ingin bersaing hanya dengan potong harga.

Yang sering ditanyakan pengusaha logistik kecil adalah: kalau pesanan tiap hari beda, apa tidak ribet menghitung satu-satu? Jawabannya tergantung seberapa sederhana sistem yang dibuat. Artikel ini akan coba uraikan langkah-langkahnya, lengkap dengan contoh dari kehidupan sehari-hari di Indonesia, supaya lebih mudah dibayangkan dan dicoba langsung.

Apa Bedanya Job Order Costing dengan Cara Hitung Biasa?

contoh job order costing

Job order costing adalah sistem di mana setiap pesanan atau job diberi identitas sendiri—biasanya nomor atau kode—lalu semua biaya yang terkait langsung dicatat di job itu saja. Ini berbeda dengan cara hitung rata-rata atau process costing yang lebih cocok untuk produksi berulang seperti pabrik air minum kemasan atau penggilingan beras.

Di logistik custom, hampir semua job punya variasi: jarak berbeda, jenis barang berbeda, waktu pengiriman berbeda, penanganan berbeda. Kalau pakai tarif flat, perusahaan bisa rugi besar di job yang rumit atau malah kehilangan pelanggan karena tarif terlalu tinggi di job sederhana. Banyak usaha kecil yang awalnya pakai “pengalaman” untuk tentukan harga, akhirnya beralih setelah beberapa kali kena surprise biaya.

Keuntungan terbesar dari metode ini adalah transparansi. Dengan mencatat rinci, perusahaan bisa tahu job mana yang sebenarnya menguntungkan, mana yang perlu direvisi prosesnya, atau bahkan ditolak kalau marginnya terlalu kecil.

Tiga Komponen Biaya yang Harus Dicatat

Biasanya ada tiga kelompok biaya yang dikumpulkan dalam job order costing:

  • Bahan baku langsung — segala sesuatu yang bisa langsung dikaitkan ke pesanan itu, misalnya solar tambahan, kardus khusus, bubble wrap, tali pengikat, atau es batu dry ice untuk barang beku.
  • Tenaga kerja langsung — upah supir, packer, atau helper yang mengerjakan job tersebut, dihitung dari jam kerja nyata.
  • Overhead yang dialokasikan — biaya tidak langsung seperti sewa gudang, servis kendaraan, asuransi armada, listrik kantor, yang dibagi ke tiap job pakai dasar tertentu (paling umum jam kendaraan atau kilometer).

Dasar pembagian overhead ini penting sekali. Kalau pakai dasar yang salah, misalnya jumlah paket saja, biaya bisa salah alokasi dan analisis jadi menyesatkan.

Contoh Nyata: Pengiriman Produk Kecantikan dengan Pendingin

Bayangkan sebuah ekspedisi kecil di Bogor yang sering tangani kiriman kosmetik yang harus dingin. Bulan Desember 2025, mereka dapat pesanan mengirim 120 pcs skincare ke 20 titik di Jakarta Barat dan Tangerang. Ketentuannya: harus pakai van pendingin, sampai dalam 12 jam, setiap paket double wrapped, plus asuransi tambahan.

Rincian biaya yang mereka catat:

  • Bahan langsung:
    Dry ice dan cooler box Rp 1.800.000
    Bubble wrap + kardus khusus Rp 1.200.000
    Bahan bakar ekstra (karena pendingin full) Rp 1.050.000
    Total bahan langsung Rp 4.050.000
  • Tenaga kerja langsung:
    Dua packer × 9 jam × Rp 85.000/jam = Rp 1.530.000
    Dua supir (shift) total 16 jam × Rp 100.000/jam = Rp 3.200.000
    Total tenaga kerja Rp 4.730.000
  • Overhead dialokasikan:
    Total overhead bulan itu Rp 38 juta, total jam kendaraan bulan itu 760 jam
    Tarif per jam Rp 50.000
    Job ini pakai van 22 jam → overhead Rp 1.100.000

Total biaya job Rp 4.050.000 + Rp 4.730.000 + Rp 1.100.000 = Rp 9.880.000

Harga jual yang disepakati Rp 13.000.000, jadi margin kotor sekitar 24%. Kalau mereka hanya pakai estimasi Rp 10,5 juta, untungnya hampir habis. Dari kasus ini terlihat jelas bahwa pencatatan detail membantu perusahaan sadar mana bagian yang bisa ditekan di job serupa berikutnya.

Contoh Lain: Antar Furnitur Pesanan ke Daerah

Di Yogyakarta, ada perusahaan yang spesialisasi kirim furnitur custom. Satu job mengantar satu set kitchen set ke rumah di Sleman, jarak 35 km, butuh tiga helper untuk angkat ke lantai dua.

Biaya tercatat:

  • Bahan langsung (solar, tali pengikat, selimut pelindung, kardus pelapis) Rp 1.650.000
  • Tenaga kerja (supir + tiga helper × 8 jam × rata-rata Rp 90.000/jam) Rp 2.880.000
  • Overhead (dasar jam kendaraan, 10 jam × Rp 45.000) Rp 450.000

Total biaya Rp 4.980.000. Harga jual Rp 6.500.000, margin sekitar 23,4%. Dari sini perusahaan mulai paham bahwa job ke daerah dengan akses tangga atau jalan sempit sering lebih mahal karena tenaga kerja dan waktu lebih lama.

Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi

Dari pengamatan di banyak usaha serupa, kesalahan yang berulang meliputi:

  • Jam kerja karyawan tidak dicatat akurat, akhirnya tenaga kerja langsung diremehkan.
  • Tarif overhead tidak pernah diperbarui, padahal harga servis atau listrik naik.
  • Biaya kecil seperti tol, parkir, atau konsumsi supir diabaikan.
  • Langsung terapkan ke semua job tanpa percobaan dulu.

Solusi paling praktis: mulai dari 5–10 job saja sebagai uji coba, catat di lembar Excel atau buku saku. Libatkan supir dan packer untuk lapor jam kerja setiap selesai job. Setelah beberapa minggu, pola akan terlihat dan sistem bisa diperbaiki.

Ke Depan: Mengapa Cara Ini Semakin Penting

Semakin banyak pelanggan yang minta layanan personal—mulai dari pengiriman produk frozen, barang seni, sampai alat medis—maka kemampuan menghitung biaya per job secara tepat akan jadi pembeda. Perusahaan yang bisa melakukan ini lebih mudah menjaga margin, menetapkan harga yang adil, dan bahkan bisa ambil kontrak jangka panjang dengan klien besar.

Bagi yang baru mulai, tidak perlu langsung beli software mahal. Catatan manual atau spreadsheet sederhana sudah cukup. Yang utama adalah disiplin mencatat dan evaluasi rutin setiap akhir bulan.

Kesimpulan

Contoh job order costing seperti di atas membuktikan bahwa metode ini tidak serumit yang dibayangkan. Di usaha logistik custom sehari-hari, penerapannya sering langsung terasa pada kesehatan cash flow dan kepercayaan diri dalam berbisnis.

Sudah pernah mencoba menghitung biaya per job secara detail? Atau ada kendala tertentu yang sering muncul? Silakan bagikan pengalaman di kolom komentar, barangkali bisa jadi masukan buat yang lain.

Baca juga:

Written By

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like