Categories Bisnis

Mengapa Banyak Perusahaan Dagang di Indonesia Masih Sering Salah Hitung Laba karena Jurnal Penutup?

MGT Logistik – Sudah jadi rahasia umum di kalangan akuntan lapangan: jurnal penutup perusahaan dagang sering dikerjakan asal-asalan di akhir tahun, padahal kesalahan di situ bisa membuat laporan laba rugi terlihat jauh lebih cantik (atau lebih jelek) daripada kenyataannya. Saya pernah mendengar cerita dari seorang teman yang mengelola usaha distribusi spare part otomotif di Bandung. Tahun 2024 dia hampir kehilangan kepercayaan supplier besar gara-gara laporan keuangan menunjukkan rugi padahal sebenarnya untung. Penyebabnya? Persediaan akhir tidak disesuaikan benar, dan jurnal penutupnya dibuat terburu-buru sebelum libur Lebaran.

Di bisnis dagang, terutama yang berhubungan dengan logistik dan rantai pasok, margin memang tipis. Fluktuasi harga barang, biaya angkut yang naik-turun, retur pelanggan yang tak terduga—semua itu membuat akuntansi akhir periode jadi sangat sensitif. Kalau jurnal penutup tidak rapi, bukan cuma laporan keuangan yang bermasalah, tapi juga keputusan bisnis ke depan jadi goyah. Apakah Anda pernah merasa laporan tahunan perusahaan terlihat “aneh” dibandingkan cash flow harian yang dirasakan?

Artikel ini akan membahas ulang soal jurnal penutup perusahaan dagang dengan sudut pandang yang lebih dekat dengan keseharian pelaku usaha. Kita akan lihat apa sebenarnya yang sering salah, langkah-langkah yang realistis diterapkan di lapangan, plus beberapa pengalaman nyata dari perusahaan sejenis di Indonesia. Semoga setelah membaca, proses penutupan buku di tempat Anda jadi lebih terasa ringan dan bermanfaat.

Kenapa Perusahaan Dagang Lebih Rentan Salah di Tahap Penutupan Buku?

jurnal penutup perusahaan dagang

Perbedaan utama perusahaan dagang dengan jenis usaha lain terletak pada akun persediaan dan harga pokok penjualan yang sangat dominan. Di perusahaan jasa, beban biasanya lebih statis—gaji, sewa kantor, listrik. Tapi di dagang, nilai barang yang masuk dan keluar gudang bisa berubah drastis dalam sebulan. Belum lagi kalau ada barang rusak, kadaluarsa, atau hilang karena pencurian kecil-kecilan di gudang.

Jurnal penutup sendiri bertugas “membersihkan” akun-akun sementara supaya tahun berikutnya mulai dari nol. Akun pendapatan, beban, ikhtisar laba rugi, prive—semuanya harus dikembalikan ke posisi awal. Kalau langkah ini dilewatkan atau dilakukan setengah-setengah, saldo modal pemilik akan salah, laporan laba rugi jadi tidak bisa dibandingkan antarperiode, dan yang paling bahaya: pajak penghasilan badan atau PPh 21 pemilik bisa meleset hitungannya.

Banyak pemilik usaha kecil-menengah berpikir, “Toh software sudah otomatis.” Memang benar software seperti Accurate, Zahir, atau Odoo bisa generate jurnal penutup dengan satu klik. Tapi kalau data inputnya sudah kacau dari awal—misalnya retur penjualan belum dicatat, atau persediaan akhir hanya angka perkiraan—maka outputnya tetap sampah. Itu sebabnya pemahaman manual tetap penting, meski hanya untuk cross-check.

Langkah Praktis yang Biasa Dipakai di Perusahaan Dagang Skala Menengah

Berikut urutan yang sering saya lihat diterapkan di beberapa distributor dan toko grosir:

  1. Pastikan neraca saldo setelah penyesuaian sudah benar. Ini tahap paling krusial. Penyesuaian biasanya meliputi penyusutan aset, akrual biaya, piutang tak tertagih, dan yang paling penting: persediaan akhir berdasarkan stock opname fisik.
  2. Tutup akun pendapatan. Ambil total penjualan bersih (setelah dikurangi retur dan potongan), debet akun Penjualan, kredit Ikhtisar Laba Rugi. Kalau ada pendapatan lain seperti bunga bank atau keuntungan selisih kurs, masukkan juga ke sini.
  3. Tutup akun beban. Semua beban—pokok penjualan, operasional gudang, transportasi, gaji sopir, sewa gudang, sampai biaya pemasaran—dikumpulkan lalu dikreditkan masing-masing, didebet ke Ikhtisar Laba Rugi.
  4. Hitung saldo Ikhtisar Laba Rugi. Kalau kredit lebih besar → laba. Debet Ikhtisar, kredit Modal Pemilik (atau Laba Ditahan kalau PT). Kalau debet lebih besar → rugi, sebaliknya.
  5. Tutup prive. Kalau pemilik ambil uang untuk keperluan pribadi sepanjang tahun, debet Modal, kredit Prive. Jangan lupa catat ini dengan baik, karena sering jadi sumber pertengkaran internal keluarga kalau usaha milik bersama.
  6. Buat neraca penutup dan laporan laba rugi final. Setelah semua akun nominal nol, neraca dan laporan laba rugi siap digunakan untuk pajak, bank, atau investor.

Di lapangan, urutan ini kadang dikombinasikan dengan penutupan bulanan atau kuartalan supaya akhir tahun tidak terlalu berat. Perusahaan yang transaksinya ribuan per hari biasanya melakukan closing bulanan minimal untuk akun pendapatan dan beban utama.

Pengalaman Nyata: Ketika Jurnal Penutup Menyelamatkan (atau Hampir Menghancurkan) Usaha

Ada satu distributor bahan makanan kering di Surabaya yang hampir bangkrut tahun 2023. Mereka rutin menjual beras, minyak goreng, dan gula dalam jumlah besar. Ternyata selama dua tahun mereka mencatat persediaan akhir berdasarkan buku saja, tanpa opname fisik. Saat opname akhir 2023 dilakukan karena ada audit bank, ternyata selisih minus Rp420 juta—kebanyakan karena barang kadaluarsa dan pencurian kecil yang tidak terdeteksi.

Setelah memperbaiki proses—opname triwulanan, jurnal penutup lebih teliti, plus pisah akun kerugian persediaan—mereka berhasil tunjukkan laba yang lebih realistis. Bank akhirnya memperpanjang fasilitas kredit, dan supplier memberikan tempo lebih panjang. Dari kasus ini terlihat jelas: jurnal penutup yang benar bukan cuma soal kepatuhan, tapi soal kelangsungan hidup usaha.

Tantangan Lain yang Sering Muncul di Tahun 2025-2026

Sekarang regulasi pajak makin ketat. e-Faktur 3.0, pembukuan elektronik wajib untuk omzet di atas batas tertentu, dan PMK tentang PPS (program pengungkapan sukarela) membuat banyak pemilik usaha panik kalau pembukuan mereka berantakan. Belum lagi kenaikan upah minimum, biaya logistik yang masih tinggi pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu, dan persaingan dari e-commerce yang menekan margin.

Solusi sederhana tapi efektif yang banyak dipakai sekarang:

  • Libatkan kepala gudang atau supervisor logistik saat stock opname. Mereka tahu barang mana yang benar-benar ada di rak, mana yang sudah rusak.
  • Buat sub-akun khusus untuk biaya logistik (Beban Angkut Masuk, Beban Angkut Keluar, Beban Gudang, Beban Asuransi Kirim) supaya lebih mudah dianalisis.
  • Gunakan software yang bisa import data dari sistem WMS (warehouse management system) kalau gudang sudah pakai barcode atau RFID.
  • Closing bulanan ringan: minimal tutup pendapatan dan beban utama, biar akhir tahun tinggal penyesuaian akhir saja.

Jurnal Penutup Bukan Akhir, Tapi Awal dari Keputusan yang Lebih Baik

Jurnal penutup perusahaan dagang sebenarnya bukan pekerjaan akhir tahun yang melelahkan kalau dikerjakan sedikit-sedikit sepanjang periode. Ia justru menjadi momen refleksi: mana bagian rantai pasok yang boros, produk mana yang benar-benar untung, dan apakah modal kerja masih cukup untuk ekspansi tahun depan.

Bagi manajer logistik, pengusaha, atau mahasiswa yang sedang belajar manajemen bisnis, memahami proses ini dengan baik akan memberikan keunggulan nyata. Karena pada akhirnya, angka di laporan keuangan bukan sekadar angka—itu cerita tentang bagaimana usaha Anda bertahan dan berkembang di tengah persaingan ketat.

Sudahkah Anda mulai merapikan proses penutupan buku di perusahaan? Atau masih ada bagian yang terasa rumit? Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar, mungkin ada ide yang bisa saling membantu antar pembaca.

Baca juga:

Written By

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like