MGT Logistik – Perusahaan pengiriman barang yang terus berkembang jarang mengandalkan keberuntungan semata. Mereka punya marketing plan yang dibuat dengan mempertimbangkan kondisi nyata di pasar. Banyak yang melaporkan pertumbuhan lebih stabil setelah menyusun rencana pemasaran tertulis, terutama ketika kompetisi semakin ramai dengan masuknya pemain baru. Bayangkan berapa banyak anggaran yang terbuang jika promosi hanya dilakukan secara acak tanpa arah jelas.
Di Indonesia, sektor logistik mengalami lonjakan permintaan sejak e-commerce meledak. Tapi pertumbuhan itu juga membawa tantangan: pelanggan semakin menuntut kecepatan, transparansi, dan harga yang masuk akal. Marketing plan membantu perusahaan memutuskan mana yang harus diprioritaskan—apakah fokus ke pengiriman same-day untuk kota besar, atau layanan hemat untuk daerah pelosok.
Artikel ini membahas langkah-langkah menyusun marketing plan yang praktis, dengan contoh langsung dari dunia pengiriman barang. Pembaca bisa langsung mencoba bagian-bagiannya tanpa perlu alat rumit atau biaya besar.
Apa yang Membuat Marketing Plan Berbeda dari Sekadar Daftar Promosi?

Marketing plan adalah panduan yang menghubungkan visi perusahaan dengan tindakan harian di pasar. Dokumen ini menjelaskan pelanggan seperti apa yang ingin ditarik, apa keunggulan yang ditawarkan, dan bagaimana cara mengukur apakah upaya itu berhasil. Untuk perusahaan pengiriman, marketing plan sering menyoroti hal-hal seperti keandalan tracking, jaringan luas, atau kemudahan integrasi dengan platform e-commerce.
Banyak perusahaan mengira marketing plan hanya untuk bisnis besar. Padahal versi ringkas pun sudah cukup membantu perusahaan kecil menghindari pemborosan. Yang penting dokumen itu tidak statis—harus dicek dan diperbarui setiap beberapa bulan agar tetap relevan dengan perubahan pasar.
Langkah pertama selalu analisis situasi. Perusahaan perlu melihat data internal: berapa persen pelanggan repeat, keluhan apa yang paling sering muncul di customer service, dan segmen mana yang memberikan margin paling baik. Data ini lebih berharga daripada asumsi semata.
Langkah Nyata Menyusun Marketing Plan
Kumpulkan informasi dasar terlebih dahulu. Tanyakan kepada tim operasional dan penjualan: pelanggan paling banyak dari segmen apa—UMKM, ritel online, atau korporat? Apa yang sering mereka bandingkan saat memilih jasa pengiriman? Jawaban-jawaban itu membentuk dasar target audiens.
Tetapkan tujuan yang bisa dihitung. Misalnya, target menambah 30 kontrak baru dari sektor fashion online dalam delapan bulan, dengan nilai rata-rata Rp80 juta per kontrak. Tujuan begini memudahkan tim mengetahui kapan strategi perlu disesuaikan.
Buat positioning yang tajam dan bisa dibuktikan. Beberapa perusahaan pengiriman memilih “pengiriman paling akurat ke wilayah timur Indonesia”, sementara yang lain menonjolkan “biaya transparan tanpa hidden fee”. Pilih satu atau dua poin kuat, jangan mencoba jadi segalanya untuk semua orang.
Pilih taktik yang sesuai kemampuan. Perusahaan kecil sering mulai dengan mengoptimalkan profil Google Business dan grup WhatsApp bisnis. Yang lebih besar menambahkan iklan di LinkedIn untuk menjangkau decision maker di perusahaan, atau membuat konten video pendek tentang proses handling barang agar pelanggan melihat langsung keandalan.
Anggaran dan Koordinasi Tim
Hitung anggaran pemasaran sebagai bagian dari target pendapatan, bukan sisa dana. Banyak perusahaan pengiriman mengalokasikan 6–10 persen untuk pemasaran di tahap ekspansi. Jika dana terbatas, utamakan saluran yang memberikan hasil cepat seperti program referral dari pelanggan existing atau artikel blog yang menjawab pertanyaan umum tentang biaya pengiriman.
Libatkan semua tim sejak awal. Marketing plan yang dibuat hanya oleh satu divisi sering gagal karena tidak sinkron dengan kemampuan operasional. Tim lapangan tahu persis apa yang pelanggan tanyakan berulang kali—masukkan masukan itu ke pesan promosi agar tidak menjanjikan hal yang tidak bisa dipenuhi.
Mengukur Hasil dan Memperbaiki
Pantau indikator yang langsung terkait bisnis. Jumlah lead masuk, berapa persen yang berubah jadi kontrak, biaya untuk mendapatkan satu pelanggan baru, dan persentase pelanggan yang kembali. Cek angka-angka ini setiap bulan.
Jika hasil meleset, cari tahu bagian mana yang bermasalah. Mungkin iklan menarik tapi follow-up lambat, atau website sulit diakses dari ponsel. Perbaikan kecil seperti mempercepat respons chat sering meningkatkan konversi secara signifikan.
Contoh dari Perusahaan Pengiriman di Indonesia
Sebuah jasa pengiriman regional di Jawa Tengah berhasil menambah kontrak korporat hampir dua kali lipat dalam setahun. Mereka fokus pada dua taktik sederhana: video singkat yang menunjukkan proses packing dan pengiriman harian, plus sesi konsultasi gratis soal penghematan biaya logistik untuk calon klien. Biayanya rendah, tapi membangun kepercayaan dengan cepat.
Perusahaan lain yang lebih besar memanfaatkan data tracking untuk kirim email personal. Pelanggan mendapat update otomatis plus saran mengurangi kerusakan barang—pendekatan ini membuat perusahaan terlihat lebih peduli dibanding sekadar pengirim biasa.
Satu contoh lagi datang dari perusahaan pengiriman antar pulau yang sempat kesulitan bersaing dengan pemain besar. Mereka menyusun marketing plan yang menekankan keunggulan di wilayah Indonesia timur, di mana kompetitor sering lambat atau mahal. Strateginya meliputi kerjasama dengan influencer lokal di Manado dan Makassar untuk membuat konten testimoni asli dari pelaku usaha kecil, ditambah program diskon khusus untuk pengiriman pertama kali ke daerah tersebut. Dalam delapan bulan, volume pengiriman ke wilayah itu naik 65 persen, dan sebagian besar pelanggan baru datang dari rekomendasi mulut ke mulut setelah merasakan sendiri ketepatan waktu yang dijanjikan. Kasus ini menunjukkan bahwa marketing plan tidak harus mahal atau rumit—cukup fokus pada kelemahan kompetitor dan kekuatan lokal yang bisa dimanfaatkan.
Kesimpulan
Marketing plan yang baik membantu perusahaan pengiriman tetap fokus dan menghindari pemborosan di tengah persaingan ketat. Mulai dari mengumpulkan data nyata, menetapkan tujuan terukur, memilih positioning yang kuat, menjalankan taktik sesuai anggaran, hingga memantau hasil secara rutin—semua langkah itu membangun fondasi pertumbuhan yang lebih stabil.
Jangan menunggu rencana sempurna. Mulai dengan versi sederhana sekarang, jalankan, catat apa yang berhasil dan apa yang tidak, lalu perbaiki. Pasar logistik berubah cepat—marketing plan yang fleksibel akan lebih membantu daripada dokumen tebal yang tidak pernah disentuh lagi.
Ceritakan pengalaman Anda menyusun atau menjalankan marketing plan di perusahaan pengiriman. Tantangan apa yang paling sering muncul, dan bagaimana cara mengatasinya? Komentar Anda bisa jadi referensi berharga bagi pembaca lain.
Baca juga:
