Categories Dunia Kerja

Mengoptimalkan Overtime di Industri Logistik Indonesia: Realitas Lapangan dan Langkah yang Mulai Bekerja di 2026

MGT Logistik – Overtime di sektor logistik Indonesia memang seperti tamu yang tak pernah benar-benar pergi. Gudang yang masih hidup setelah jam delapan malam, sopir yang baru sampai tujuan saat orang lain sudah sarapan, atau tim admin yang masih input resi sampai larut—itu semua sudah jadi bagian dari rutinitas banyak perusahaan. Apalagi sekarang, dengan pesanan daring yang terus bertambah dan pelanggan yang semakin tidak sabar menunggu, overtime sering muncul sebagai jalan pintas pertama ketika semuanya terasa kewalahan.

Banyak orang di lapangan yang sudah hafal ritmenya: akhir tahun paling berat, diikuti Lebaran, tahun ajaran baru, atau sekadar promo dadakan dari salah satu marketplace besar. Yang mulai mengganggu adalah ketika overtime ini bukan lagi sesekali, melainkan hampir setiap minggu. Beberapa manajer mulai melihat karyawan operasional tampak lesu terus-menerus, absen karena sakit naik perlahan, dan laporan biaya operasional yang terus membengkak tanpa alasan jelas.

Artikel ini ingin mengupas overtime dari sisi yang lebih dekat dengan realitas sehari-hari di industri logistik Indonesia. Kita akan membahas faktor-faktor yang membuat lembur terus saja muncul, dampak nyata yang dirasakan baik oleh tim lapangan maupun perusahaan, serta beberapa pendekatan yang telah diterapkan oleh sejumlah perusahaan lokal dan mulai memberikan hasil positif sepanjang tahun 2026 ini.

Apa Saja yang Membuat Overtime Terus Berulang

overtime

Permintaan yang naik-turun drastis tetap jadi biang kerok utama. Saat ada event belanja besar, volume bisa melonjak tiga hingga empat kali lipat dalam waktu singkat. Perusahaan yang tidak punya skala besar biasanya enggan menambah armada atau karyawan tetap hanya untuk menutupi periode puncak yang pendek, jadi tim yang ada yang disuruh lembur agar paket tidak menumpuk.

Masalah di jalan juga masih sangat berpengaruh. Macet di tol dalam kota yang bisa makan waktu berjam-jam, antrean panjang di pelabuhan, banjir musiman di jalur utama, atau hujan deras di rute antar pulau—semua itu membuat jadwal pengiriman sering molor. Sopir yang sudah lelah tetap harus melanjutkan karena kalau berhenti, besoknya komplain pelanggan langsung datang.

Tenaga kerja dengan keahlian tertentu masih sulit didapat. Sopir truk besar dengan SIM yang sesuai, operator alat berat di gudang, atau orang yang paham urusan bea cukai tidak muncul begitu saja. Akhirnya, orang yang sama yang terus diminta lembur, kadang sampai berhari-hari berturut-turut.

Tekanan dari pelanggan juga tidak main-main. Pengiriman same-day atau next-day yang dulu dianggap prestasi sekarang sudah jadi ekspektasi standar di kota besar. Kalau tidak sanggup, pelanggan pindah ke kompetitor yang lebih siap. Overtime pun jadi cara tercepat untuk menjaga nama baik.

Keuntungan Overtime yang Masih Dirasakan

Meski banyak keluhan, overtime tetap punya sisi positif kalau tidak berlebihan. Perusahaan bisa tetap menyanggupi order di saat ramai tanpa harus menolak pelanggan, sehingga kesempatan bisnis tidak lepas. Bagi karyawan operasional—kurir, picker, helper—tambahan upah lembur sering kali jadi penutup kebutuhan bulanan yang lumayan besar, terutama kalau gaji pokok masih standar.

Beberapa perusahaan daerah bilang bahwa ketika lembur dibagi rata dan terjadwal, karyawan justru lebih betah bertahan. Tingkat keluar masuk di posisi lapangan jadi lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama di daerah yang susah cari orang baru. Di situasi genting seperti distribusi bantuan pasca-bencana, kerja ekstra tim inilah yang membuat barang sampai ke tangan orang tepat waktu.

Risiko yang Mulai Terasa Lebih Nyata

Tapi overtime yang kebanyakan juga punya efek buruk yang semakin terlihat. Kelelahan jadi penyebab utama kesalahan: paket salah kirim, barang rusak karena buru-buru, atau kecelakaan di jalan malam hari. Banyak kasus truk logistik yang kecelakaan terjadi justru di jam-jam di luar waktu mengemudi normal.

Biaya ikut membengkak tanpa terasa. Upah lembur yang lebih tinggi, bensin ekstra, tol malam, listrik gudang yang nyala lebih lama, plus risiko denda kalau melebihi aturan—semua itu bisa makan margin yang sudah tipis. Setelah 10–11 jam kerja, produktivitas biasanya turun; kesalahan kecil yang sepele bisa jadi rugi besar.

Yang paling susah diukur adalah dampak ke semangat. Awalnya senang dapat tambahan uang, tapi lama-lama muncul rasa capek karena jarang ketemu keluarga, tidur kurang, atau merasa hidup cuma muter di kerjaan. Beberapa perusahaan mulai melihat karyawan muda keluar setelah 1,5–2 tahun karena alasan ini.

Cara yang Sudah Dicoba dan Mulai Berhasil

Perusahaan yang mulai berubah biasanya mulai dari perencanaan yang lebih matang. Data volume tahun lalu digabung dengan info dari marketplace dan prakiraan cuaca, sehingga prediksi lebih tajam. Penambahan shift atau armada sementara bisa diputuskan lebih awal, bukan dadakan.

Karyawan dilatih lintas tugas. Picker yang juga bisa packing atau input resi, staf admin yang bisa bantu sorting—ini mengurangi macet kalau ada yang absen atau overload.

Insentif tidak melulu uang. Ada yang kasih tambahan cuti setelah periode sibuk, voucher keluarga, atau cek kesehatan gratis. Cara ini sering lebih dihargai karena langsung berdampak ke kehidupan pribadi.

Teknologi murah juga mulai dipakai. Sistem gudang sederhana bisa mempercepat kerja 25–35%, aplikasi tracking dengan pengingat istirahat membantu hindari lembur yang sebenarnya tidak perlu. Banyak perusahaan kecil sudah mulai pakai ini tanpa biaya besar.

Yang terpenting, bicara langsung sama tim. Rapat kecil mingguan atau tanya pendapat lewat kuesioner sederhana sering membuka mata manajemen. Banyak karyawan lebih suka jadwal yang jelas daripada lembur mendadak yang berulang.

Ke Depan di Tahun 2026

Dengan semakin banyak yang pakai otomatisasi gudang ringan dan sistem rute pintar, ketergantungan overtime mulai berkurang di beberapa tempat. Tapi untuk kebanyakan perusahaan menengah ke bawah, mengelola overtime dengan lebih pintar masih jadi cara paling realistis untuk tetap bersaing.

Saran sederhana: hitung dulu berapa persen jam kerja total yang berasal dari overtime selama tiga bulan terakhir. Lihat pola di gudang mana, rute mana, atau bulan mana yang paling banyak. Dari situ biasanya sudah kelihatan langkah pertama yang paling masuk akal—entah tambah shift cadangan, latih ulang karyawan, atau mulai pakai alat bantu teknologi murah.

Overtime memang belum bisa dihilangkan sepenuhnya dari logistik Indonesia sekarang, tapi bisa dikurangi dan diatur agar tidak jadi beban berat. Perusahaan yang bisa menyeimbangkan kecepatan layanan dengan kesehatan tim biasanya lebih kuat bertahan di pasar yang ketat ini.

Penutup

Overtime yang terkendali bisa jadi pendukung bisnis yang baik, tapi kalau dibiarkan tanpa kendali malah jadi penghalang pertumbuhan. Menjaga keseimbangan antara target pengiriman dan kesejahteraan orang-orang di lapangan tetap jadi kunci utama di industri ini.

Pengalaman Anda sendiri bagaimana menghadapi overtime di tempat kerja? Sudah ada perubahan yang terasa membantu dalam satu-dua tahun terakhir, atau masih ada masalah yang sama? Silakan share di kolom komentar, barangkali bisa saling menginspirasi.

Baca juga:

Written By

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like