MGT Logistik – Banyak orang yang ingin memulai usaha tapi langsung mundur begitu melihat angka modal yang dibutuhkan. Padahal, dengan bisnis modal 10 juta, masih sangat mungkin membangun sesuatu yang punya prospek bagus, terutama di dunia logistik yang sekarang terus bergerak cepat karena pesanan online tak pernah berhenti. Yang penting bukan besarnya modal, melainkan bagaimana kita menggunakannya.
Saya sering mendengar cerita teman-teman pengusaha kecil yang bilang, “Dulu cuma punya 8–12 juta, sekarang sudah punya dua armada dan tiga karyawan tetap.” Ternyata kunci utamanya ada pada pemilihan ceruk yang tepat dan pengelolaan uang yang sangat ketat. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa lebih dari setengah usaha mikro dan kecil di Indonesia lahir dengan modal di bawah 20 juta rupiah, dan persentase yang bertahan hingga tahun ketiga cukup tinggi jika pemiliknya konsisten.
Pertanyaan yang sering muncul di grup-grup pengusaha adalah: uang 10 juta itu cukup untuk apa saja di logistik? Jawabannya tergantung pada skala yang kita incar dan seberapa pintar kita memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada di sekitar. Artikel ini akan membahas pilihan bisnis yang realistis, alokasi dana yang biasa dipakai orang-orang sukses, beberapa contoh nyata, plus hal-hal yang sering bikin gagal supaya bisa dihindari.
Peluang Logistik yang Masih Terbuka untuk Modal Kecil

Tahun 2026 ini, pertumbuhan e-commerce di Indonesia diperkirakan masih di kisaran 18–22% per tahun. Artinya, kebutuhan pengiriman lokal, pengiriman antar kota kecil, bahkan pengiriman barang khusus seperti makanan beku atau spare part masih sangat besar. Bisnis modal 10 juta tidak perlu bersaing langsung dengan perusahaan besar. Justru banyak celah yang ditinggalkan oleh pemain besar karena dianggap terlalu kecil atau terlalu merepotkan.
Salah satu ceruk yang masih sangat hidup adalah pengiriman last-mile di kawasan perumahan baru dan cluster di pinggiran Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor. Banyak warga di sana kesulitan kalau harus menunggu kurir besar yang jadwalnya kaku. Dengan modal 10 juta, seseorang bisa mulai dengan dua motor matic bekas tahun muda (sekitar 4–5 juta), helm, jaket seragam sederhana, plus bensin dan pulsa untuk dua bulan pertama.
Pilihan lain yang cukup banyak diminati belakangan adalah jasa antar-jemput dokumen dan paket kecil antar perusahaan kecil-menengah di kawasan industri. Banyak UMKM di kawasan seperti Cikarang atau Karawang yang butuh pengiriman cepat tapi tidak mau bayar mahal ke ekspedisi besar. Modalnya bisa dialokasikan untuk motor satu unit plus aplikasi tracking sederhana yang dibuat sendiri menggunakan Google Sheets dan WhatsApp Business.
Bagaimana Cara Membagi Anggaran 10 Juta dengan Bijak
Pengalaman banyak pengusaha menunjukkan pembagian dana yang cukup umum seperti ini:
- Kendaraan (motor atau mobil bekas kondisi baik) → 50–60%
- Perlengatan pendukung (kotak penyimpanan, helm, seragam, stiker branding) → 10–12%
- Biaya operasional 2–3 bulan pertama (bensin, pulsa, makan sopir) → 15–20%
- Pemasaran awal (spanduk kecil, flyer, iklan FB/IG targeted lokal) → 8–12%
- Cadangan darurat → minimal 10%
Jika memilih motor bekas tahun 2020–2022 yang masih mulus, harganya biasanya berkisar 18–25 juta per unit. Dengan 10 juta, paling realistis mengambil satu unit motor plus satu unit cadangan atau dua unit motor matic yang lebih murah. Sisanya dipakai untuk menutupi kekurangan di bulan-bulan awal saat omzet masih naik-turun.
Yang sering dilupakan adalah biaya kecil tapi penting seperti pembelian nomor WhatsApp Business khusus, domain murah untuk website satu halaman (bisa pakai template gratis), dan biaya cetak kartu nama. Semua itu kalau dijumlahkan bisa makan 500–800 ribu, tapi dampaknya besar untuk kesan profesional.
Contoh Nyata dari Lapangan
Di kawasan Bekasi barat, ada pengusaha bernama Mas Andi yang mulai tahun 2023 dengan modal 9,5 juta. Ia fokus antar paket makanan frozen ke warung makan dan katering kecil. Awalnya hanya satu motor, tapi karena pelanggan puas dengan ketepatan waktu, dalam delapan bulan ia sudah bisa tambah satu motor lagi dan rekrut satu orang sopir paruh waktu. Sekarang omzet bulanan sudah stabil di atas 35 juta.
Cerita lain datang dari Bandung. Seorang ibu rumah tangga memulai jasa antar barang antar distro dan konveksi kecil di daerah Dago dan Setiabudi. Modal awal 10 juta dipakai untuk motor plus aplikasi sederhana yang ia buat sendiri pakai MIT App Inventor. Dalam satu tahun, ia sudah punya kontrak tetap dengan tujuh konveksi dan omzet rata-rata 22–28 juta per bulan.
Dua cerita ini sama-sama menunjukkan pola yang sama: mulai dari lingkup sangat kecil, bangun kepercayaan pelanggan satu per satu, baru ekspansi setelah arus kas positif.
Hal-hal yang Sering Bikin Gagal dan Cara Menghindarinya
Pengalaman lapangan menunjukkan beberapa kesalahan yang berulang:
- Langsung beli kendaraan baru yang cicilannya besar → cash flow langsung tercekik.
- Pemasaran terlalu luas (target seluruh kota) padahal armada terbatas → banyak komplain telat.
- Tidak punya catatan keuangan harian → akhir bulan bingung uang kemana.
- Menganggap pelanggan tetap akan datang sendiri → tanpa follow up rutin, pelanggan mudah pindah.
Solusinya sederhana: mulai dari radius 10–15 km saja, catat setiap pengeluaran dan pemasukan di buku atau aplikasi gratis seperti BukuWarung, dan jangan segan menghubungi pelanggan lama seminggu sekali untuk menanyakan kepuasan.
Apa yang Bisa Diharapkan di Tahun Kedua dan Ketiga
Kalau dijalankan dengan disiplin, tahun pertama biasanya fokus bertahan dan membangun reputasi. Tahun kedua, banyak yang sudah bisa menambah armada atau merekrut orang. Tahun ketiga, peluang untuk ambil kontrak tetap dengan perusahaan menengah mulai terbuka, terutama kalau sudah punya sistem tracking yang rapi.
Tren ke depan juga mendukung. Banyak perusahaan besar sekarang mencari mitra lokal untuk menangani pengiriman di area yang mereka anggap kurang menguntungkan. Dengan reputasi baik, bisnis modal kecil bisa masuk ke ekosistem tersebut.
Kesimpulan
Memulai dengan 10 juta memang tidak mudah, tapi juga bukan mustahil. Yang dibutuhkan lebih banyak pada ketekunan, perhitungan cermat, dan kemauan belajar dari kesalahan kecil setiap hari. Banyak orang sudah membuktikan bahwa langkah pertama dengan modal terbatas justru bisa membawa ke tempat yang jauh lebih baik daripada menunggu modal besar yang tak kunjung datang.
Sudahkah Anda mencoba memulai usaha dengan modal seadanya? Atau sedang mempertimbangkan bidang logistik? Ceritakan pengalaman atau pertanyaan Anda di kolom komentar, siapa tahu bisa saling membantu.
